Thursday, January 01, 2009

Ada Waktu Mengelus, Ada Waktu Menggampar

ada-waktu-mengelus-ada-waktu-menggampar__warna
Siang tadi baru saja selesai baca buku Pdt. L.Z. Raprap yang berjudul “Ada waktu mengelus, ada waktu menggampar”. Judulnya sangat mengundang tawa, dan memang buku yang isinya kotbah-kotbah pilihan pak Raprap tersebut sangat jenaka. Namun bukan kelihaian dalam menyusun kotbah yang humoris yang saya kagumi dari beliau, namun saya kagum terhadap kelihaian beliau mencari contoh, cerita, atau perumpamaan yang praktis untuk menyampaikan isi kotbahnya. Menurut saya beliau juga sangat lihai menjelaskan arti sebuah ayat tertentu dengan bahasa yang sangat mudah dimengerti. Yang saya ingat, ada dua kotbah yang ditulis beliau, pernah dibawakan di acara KPI GKI Samanhudi kira-kira satu dasawarsa lalu, yaitu membahas tentang garam dan terang dunia, dan jemaat yang missioner.
Beberapa waktu lalu beliau juga pernah berkhotbah di GKI Kepa Duri, namun jujur aja saya tidak ingat isi kotbah beliau.

Yang sampai hari ini saya ingat dari kotbah beliau adalah tentang garam dan terang dunia. Beliau bertanya mengapa Yesus menggunakan perumpamaan dengan garam? Lalu beliau bertanya lagi apa fungsi garam? Fungsi garam adalah mencegah kebusukan. Daging yang diberi garam akan tahan dari kebusukan dan dapat disimpan lebih lama. Mengapa Yesus menggunakan kata “garam” dan “terang” ?

Ternyata Yesus ingin menekankan dua sisi kehidupan kristen yang harus kita jalani sebagai pengikutNya. Menjadi garam berarti melebur atau membaur bersama keadaan sekitar sambil tetap bersaksi tentang Kristus. Garam yang ditabur di dalam sayur tidak akan terlihat lagi bentuk kristal garamnya, namun rasa dari garam tersebut akan tetap ada. Begitu pula dengan orang Kristen, harus berbaur dengan lingkungan sekitar, berbaur dengan penganut agama-agama lain tapi tetap mempunyai identitas sebagai seorang Kristen.

Menjadi terang berarti ada kalanya kita secara terbuka mengakui bahwa kita adalah orang Kristen. Misalnya setiap hari Minggu beribadah di gereja. Ketika saya beribadah atau pergi untuk beribadah, orang lain akan melihat dan menyadari bahwa saya adalah seorang Kristen. Identitas kekristenan saya terlihat jelas saat itu. Namun ada kalanya pula saya menjadi garam, berbaur dengan orang lain, dan tidak secara terang-terangan menunjukkan bahwa saya seorang Kristen, tetapi orang lain seharusnya menyadari dari sikap, sifat, kata-kata, dan perbuatan, bahwa saya seorang Kristen.

Buat pak Raprap:
Pak Raprap, buku bapak isinya sangat bagus sekali. Saya akan mereferensikannya ke teman-teman saya.

1 comments:

Anonymous said...

agreed. Pdt ini memang diberi Talenta dan sungguh menjadi contoh yang baik untuk orang2x disekitar dalam kehidupannya sehari hari.
Dia dan keluarga hidup dalam kesederhanaan. Saya pribadi bersyukur kepada Tuhan bisa medengar/membaca Firman dan diberi keterangan baik melalui mimbar ataupun buku lewat beliau.

FYI, sekarang bapak pendeta sedang di RS Cikini sudah menjalani operasi pertama dan akan menjalani operasi ke dua setelah pemulihan operasi pertama dalam dua minggu ini.
Untuk yang terketuk hatinya.. mari kita membantu beban pak pendeta baik dalam doa ataupun membantu biaya pengobatan jika mau.