Kemarin sore saya membeli formulir pendaftaran mahasiswa pascasarjana di binus. Dari kantor jam 5 sore. Saat keluar dari gedung, terlihat mendung yang tebal, dan sepertinya sekitar setengah jam lagi akan hujan. Mestinya saya bisa sampai di binus tepat waktu, pikir saya. Setidaknya kalaupun kehujanan hanya basah sedikit, asalkan hujannya tidak langsung lebat.
Ternyata saya salah perkiraan, dari kantor saya mengambil jalan yang salah sehingga terjebak macet di Pasar Tanah Abang Blok A. Lumayan lama macet di situ, sekitar 10 menitan, hampir tidak sabar rasanya melihat angkot yang menaik-turunkan penumpang seenaknya saja. Dan setelah lepas dari kemacetan itu pun tidak lama hujan turun dengan lebat. Karena tidak membawa jas hujan, saya harus mencari tempat berteduh karena jaket dan celana saya terasa sudah mulai basah kena air hujan.
Setelah agak reda, saya melanjutkan perjalanan, dan saat sampai di sekitar kemanggisan, kira-kira 3 km dari kampus anggrek binus, hujan turun lebat lagi, terpaksa saya pun menepi lagi. Baru diawal begini saja sudah butuh perjuangan, pikir saya, apalagi nanti jika saya sudah menjalani kuliah.
Untuk kedua kalinya, hujan agak reda, tapi terasa masih cukup lebat, saya pun melanjutkan perjalanan. Jaket saya sudah benar-benar basah, dan celana panjang saya pun terasa sudah sangat basah. Akhirnya saya pun sampai di kampus anggrek binus. Di tengah hujan yang cukup lebat, saya kebingungan mencari tempat parkir motor yang biasanya terletak di belakang kampus sekarang sudah ditutupi seng sepertinya sedang direnovasi. Saya kembali ke arah parkiran mobil dan bertanya dengan petugas keamanan di sana, di mana tempat parkir motor. Ia menunjuk ke arah dalam tapi saya harus mengambil jalan memutar gedung parkir. Alhasil, sepertinya banyak perubahan di kampus anggrek. Sesampainya di parkiran, saya menuju lantai dasar, tempat admisi dan kembali saya terkejut. Tempat yang dulunya adalah admisi ternyata sekarang berubah menjadi perpustakaan. Saya kembali bertanya dengan petugas keamanan di sekitar situ, di mana lokasi admisi. Ia menunjuk ke arah luar, dan saya harus berjalan keluar gedung ke arah depan kampus untuk ke admisi, kehujanan lagi deh.
Sampai di admisi, saya diberi nomor antrian, seperti layaknya antri di rumah sakit saja. Tak lama kemudian, nomor antrian saya dipanggil oleh salah satu customer service. Saya mengatakan ingin membeli formulir pascasarjana. Tak lama kemudian, ia memberikan seberkas dokumen yang mesti saya lengkapi, namun ia menjelaskan dengan agak cepat sehingga saya sering mesti bertanya ulang, dan beberapa diantaranya tidak jelas pula jawabannya, karena ia menjawabnya pun dengan terlalu cepat.
Cukup banyak form yang mesti diisi dan dokumen yang mesti saya lengkapi. Waktu saya sampai tanggal 17 Februari, termasuk dengan harus mengikuti tes TOEFL.
Dan sepertinya hari Senin nanti saya harus kembali menelepon binus untuk bertanya lebih detail tentang kelengkapan dokumen tersebut, ada beberapa hal yang belum jelas ketika si customer service menjelaskan tadi.
Kembali ke bangku kuliah mungkin bukan pilihan yang bijaksana di umur saya yang ke dua puluh enam saat ini. Mestinya saat ini saya memikirkan untuk menikah dan membangun keluarga. Namun nampaknya, pilihan menikah itu terasa masih jauh di mata saya. Saya masih ingin belajar banyak hal melalui kuliah. Motivasi saya bukan semata hanya untuk mencari gelar, melainkan saya memang menyukai mempelajari hal-hal ilmiah yang belum pernah saya ketahui sebelumnya. Semoga Tuhan memberikan saya kekuatan untuk saya dapat menjalani perkuliahan nanti.